Ada ada saja, ya bagaimana saya tidak ingin menggelengkan kepala kepada presiden kita ini. Selalu ada yang baru, selalu tampil di depan. Ya terlepas apakah hal yang 'baru' dan 'tampil' itu seperti apa. Apakah sarat dengan kebijakan pemerintah, kepedulian masyarakat atau hanya sekedar nyanyi menemani anak anak di siang hari. Yang penting tadi, 'baru' sekaligus 'tampil'.

Media pun sama, sama sama membuat saya menggelengkan kepala, mereka meliput dinamika kehidupan presiden kita seolah-olah seperti acara dokumenter di tv-tv. Padahal kontennya tidak selalu berhubungan dengan kenegaraan yang cukup beragam dan kadang sukar dimengerti pula. Ya seperti yang saya katakan, yang penting 'baru dan 'tampil. Istilah 'baru' dan 'tampil' ini menjadi nilai plus bagi saya, yang tidak dimiliki oleh politisi yang lain.

Tadi siang, saya melihat berita online dan menemukan pak Jokowi sedang bernyanyi di rubrik 'terpopuler' di salah satu surat kabar. Saya tertarik bukan karena Pak Jokowi sebagai sorotan dalam berita tersebut. Saya tertarik karena berita itu berada di rubrik 'terpopuler' tadi.

Saya membaca perlahan, seksama dan begitu jeli. Sampai saya mau mengakhiri berita itu, saya sambil berpikir, dimana letak kepopuleran dari berita ini. Sayapun membaca ulang, dari atas lagi, seolah anak SD yang tak yakin kepada hasil rapotnya. Dan hasilnya sama, saya hanya menemukan bahwa beliau, presiden kita, telah bersama anak anak sekitar 300 an sambil bernyanyi di istana negara. Yang mungkin berita ini, tak akan teringat sampai seminggu atau bahkan sebulan.

Nyanyi nyanyi, hura-hura dan jingkrak-jingkrak adalah hal yang sama sekali tidak bisa dikategorikan populer bagi saya. Kecuali mungkin sebuah orasi ilmiah, dan mengundang sejumlah awak media untuk jumpa pers terkait dengan mendekatnya pilpres ini, untuk menghimbau agar tetap menjalin kerukunan antar agama dan persatuan sesama. Nah itu baru populer dan fenomenal.

Tapi saya tetap suka dengan cara itu, sebuah cara yang tidak politikus miliki. 'Baru' dan 'tampil'. Dengan sejumlah media yang ada, sosok Jokowi akan hadir bersama masyarakat Indonesia. Dan ini, bagi pengamat politik, pasti ada hubungannya dengan pilpres 2019 mendatang. Coba saja kalian bertanya ke pakar politik sesuai dengan apa yang saya anjurkan tadi.

Seperti yang saya katakan, hal itu adalah biasa. Akan ada banyak cara, materi dan bahan untuk selalu tampil dan terbaru di depan publik. Tentu lewat media. Politisasi media adalah cara yang cukup sederhana untuk membangun persepsi publik. Selalu demikian, bahkan terkadang sesama medianya masih mengandung unsur politis.

Saya adalah masyarakat biasa, rakyat jelata yang masih suka iri kepada negara yang telah maju diluar sana. Saya pun masih suka bangga dengan peninggalan nenek moyang bangsa terkait budaya dan warisannya. Dan saya pula, masih menginginkan negara tercinta ini dipimpin oleh presiden yang benar benar amanah, bukan hanya sekedar 'baru' dan 'tampil'.

Semoga Bapak Jokowi, bisa menjalankan aktifitas dan tanggungjawab nya sebagai presiden Indonesia meski tak harus diliput dan diberitakan lewat media. Semoga beliau juga sehat wal Afiat dan mendapatkan Rahmat di dunia dan akhirat, disisi Tuhan yang Maha Esa, Amin

Salam Sukses Sejahtera
By: Mohammad Faiq