Semalam, saya menghadiri sebuah kajian fenomenal yang diadakan oleh sekelompok santri yang ada di Madura. Acara yang diletakkan di kafe itu pula mengundang sejumlah organisatoris organisatoris nasional, serta beberapa aparat kepolisian dengan tema yang bertajuk 'Media di Lautan Hoax'. Dihadiri pula beberapa jurnalis dari beberapa media serta kelompok santri yang sangat apik dengan sarung hitam dan kopyahnya itu.

Acara yang bernama Kopdar Ngaji Sosmed tersebut berjalan dengan begitu ramai dan lancar. Membahas keilmuan, membagikan hadiah hadiah, dan tentu mendapatkan kopi gratisan bagi tamu yang mengisi daftar hadir, sebagai bukti memeriahkannya acara dengan konsep ngopi itu. Ya termasuk saya ini, seorang santri yang kesibukannya cuma bersihin kamar dan aktif berkomentar di beberapa sosial media.

Dari acara itu, semakin membuat santri  dipandang, diapresiasi dan bahkan dibanggakan. Diluar sana, Ada banyak orang yang kadang kadang kurang percaya diri menyandang status santri, ini bahkan banyak. Dan ada pula yang getol menunjukkan identitas santrinya dengan rajin memakai sarung serta kopyah kemana mana, yang ini juga banyak. Bahkan di acara semalam, saya menemukan satu hadirin yang sama sekali jauh dari penampilan sosok santri, hanya celana robek robek dengan topi gaul berwarna mencolok itu. Dan ada pula yang penampilannya ala santri tulen. Dalam ruangan itu, kita bersatu padu dalam sebuah tempat yang daftar sajiannya adalah kopi dan moca-latte. Bermanja-manja bersama lagu lagu sebagai instrumen malam.

Menjadi santri, hemat saya, adalah menjadi sosok yang mengerti tentang agama, teguh dalam beragama dan bahkan memprioritaskan ajaran dalam agama. Selain itu, memiliki tatakrama dan sopan santun kepada semua orang. Ya, semua orang. Terlepas apakah dia menggunakan sarung atau kopyah. Sarung dan kopyahpun bukanlah menjadi tolak ukur, apakah dia santri, atau apakah tutur kata dan tatakramanya menjadi sesuai dengan agama, atau apakah juga mengerti tentang agama, Belum tentu. buktinya kan banyak, banyak sekali orang orang yang menggunakan sarung-kopyah meski dia tak pernah mondok, tak pernah jadi santri dan tak pernah mengikuti kegiatan pesantren.

Nyantri itu bukan sekedar berjalan dan memakai merek sarung bagus dengan kopyah mapan kemana-mana, tapi nyantri itu mampu mengaplikasikan nilai nilai agama, nilai Muamalat dan bahkan nilai nilai kemaslahatan umat, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini, apapun bajunya, bagaimanapun penampilannya. Jika ada orang dengan kopyah petantang petenteng kemana mana itu, saya lebih mengansumsikan mereka, adalah orang yang masih peduli dan mencintai kebudayaan Nusantara. Kopyah, sarung, blangkon, dan baju baju tradisional lain diluar sana.

Nyantri itu tidak harus santri

Salam Sukses Sejahtera
By Mohammad Faiq