Dipaksa menulis artikel berisikan tema pendidikan, seorang bocah yang baru saja lulus dengan cita-cita ingin menjadi penulis hebat itu, menghampiri saya. Ya mau bagaimana lagi, buku tak banyak dibaca, tak banyak digali, pengetahuan nya hanya itu-itu aja. Ya ga bisa apa-apa, kecuali menulis setauku bagaimana dan untuk apa pendidikan. Hanya demi dia, seorang gadis dengan jeans sobek-sobek di lututnya.
Dari ini saya berpikir, manusia tak perlu melakukan apa yang ada di kepala nya. Terlalu naif mungkin. Di kepala ada banyak obsesi, angan-angan atau bahkan khayalan nyaman yang sangat mengundang mata terlelap di waktu malam. Itu boleh, tidak ada larangan berandai-andai. Namun perlu diketahui juga, melakukan apa yang menjadi obsesi itu sungguh tidak semudah cara kalian berkhayal, hanya memejamkan mata sambil tersenyum terbawa mimpi yang jika bangun, anda hanya akan memikirkan cucian dan cara membayar angsuran. Hidup rumit, tak semudah angan kalian.
Saya berusaha menulis dengan obsesi dimana tulisan saya adalah bagus, berbeda dengan saya menulis karena diminta adek sepupu saya. Itu dua hal yg berbeda. Saya menulis segenap apa yang saya ketahui justru lebih lihai, tenang dan tak ada beban. Dari pada saya menulis dengan obsesi bagaimana semua orang melihat serta menilai indahnya tulisanku, itu obsesi. Nonsens!
Sehingga dari pagi itu saya tertegun sejenak sambil memandang sepupu ku sedang kasih makan kucing anggora nya itu, dan tersenyum. Memikirkan bahwa hidup kita tak bisa diciptakan dari isi kepalanya, tapi isi kepala kita dibentuk atas apa yang kita usaha dan perjuangan kan. Itu yang selama ini tanpa kita sadari.
Pagi ini, saya tak akan menulis ini dan artikel kecil dengan bolpoin Barbie murahan yang telah ia beli tanpa permintaan adekku Angel dengan cara manja dan rayuannya.
Salam Sukses Sejahtera
Oleh: Mohammad Faiq
0 Comments