Semoga di pagi yang cukup dingin ini, kalian masih bisa merasakan aroma tanah campur air embun sejak semalam. Khas sekali bukan. Semoga juga kalian masih bisa jalan kecil-kecilan di atas kerikil halaman untuk sekedar memperlancar peredaran darah dan menikmati pepohonan yang rindang.

Saya di pagi ini, memutuskan untuk tidak keluar rumah apalagi sampai lari kecil kecilan dan melihat pepohonan itu. Saya di kamar, menulis dan berharap ada yang bisa dijadikan tulisan setelah melihat lihat berita pagi ini. Saya pun membuka salah satu berita online, tentu banyak sekali penawaran rubrinya, mulai dari kriminalitas, pendidikan, politik sampai entertainment.

Saya selalu melihat apa yang ada di rubrik 'popular'. Bagi saya, untuk bisa masuk kedalam rubrik ini, berita tersebut haruslah benar-benar fenomenal dan aneh. Ya harus gitu, fenomenal dan aneh. Fenomenal dalam artian fakta tersebut termasuk sesuatu yang langka serba mainstream. Misalnya dalam daftar populer di berita tersebut, salah satunya adalah, polisi menembak tewas pencuri kotak amal dan gas elpiji di rumah makan. Kata kunci dari ini adalah tembak mati.

Ya benar sekali, kemaren tersangka ditembak mati karena mereka berusaha melawan kepolisian yang begitu amanah itu. Mereka mencuri kotak amal dan sekitar 15 tabung elpiji dari rumah makan itu. Dalam berita tersebut, pelaku sebenarnya adalah tiga, yang dua ditembak mati dan satunya masih buron.

Sungguh fenomenal juga itu rupanya. Bagaimana tidak, dengan mengenyampingkan ilmu agama, kotak amal sebagai bentuk kepedulian sesama manusia telah dinodai oleh pelaku tersebut. Kotak amal yang secara harfiah dikumpulkan lewat ikhlasnya sedekah orang orang dari bermacam profesi dan penghasilan. Saya juga kurang bisa menangkap, bagaimana cara mereka, para tersangka, merasionalkan yang telah mereka nodai itu.

Sehingga, saya juga tak merasa kaget, sekaget sebelum saya membaca seluruh isi berita tersebut. Saya juga tak merasa bahwa, meninggalnya tersangka dalam pencurian kotak amal itu, termasuk hal yang dilanggar oleh kepolisian, termasuk hal yang tidak boleh dilakukan polisi. Namun, setelah saya tau bahwa yang dicuri adalah kotak amal, sebuah kotak berisi uang penuh keikhlasan orang orang, maka saya pun secara tak langsung menerima saja tindakan polisi menembaki peluru yang akhirnya menewaskan itu.

Kadang sesuatu yang besar itu bukan karena seberapa banyak volume dalam tabung atau dalam sebuah kotak. Tapi seberapa ikhlas volume tersebut yang orang orang isikan. Yang tanpa pamrih, tanpa upah dan sama sekali tulus untuk membantu orang yang membutuhkan. Meskipun ternyata volume ikhlas tadi ketika dikalkulasi masih terbilang sedikit secara nominal, uangnya misalkan. Tapi tetap, itu bernilai besar Dimata orang-orang apalagi Tuhan.

Kemudian kebesaran nilai tersebut dipangkas, dinodai, dan dicuri demi kebutuhan pribadi, Kebutuhan ekonomi, dan kebutuhan duniawi yang lain. Betapa murkanya tuhan kepada orang orang itu. Akibat itu, banyak orang yang tak mau berpikir ulang, bahkan hanya sekedar menembakkan peluru meskipun konsekuensinya membuatnya meninggal.

Salam Sukses Sejahtera
By Mohammad Faiq