Hari sedang siang, matahari saat ini sedang dalam keadaan panas maksimum. Aku disini, dibawah atap untuk berteduh, untuk bernaung. Dari apa, tentu dari teriknya panas. Panas apa, tentu bukan dari panasnya isu-isu seputar pilkada pemilu serentak yang menyesakkan telinga di tv-tv.

Pemilu, suatu bentuk demokrasi kita, demokrasi Indonesia. Saya sebagai warga negara, yang semoga saja patuh, terhadap negeri ini mempunyai hak untuk menentukan pilihan dalam setiap pemilu. Mengapa, karena itu yang dimaksud dengan demokrasi. Saya berhak seratus persen tanpa harus ada intervensi dari siapapun dan apapun. Jadi misalnya kalian adalah tim sukses mesin partai, kemudian anda memberikan uang seratus atau dua ratus ribu kepada saya, sesungguhnya saya telah berdosa kepada Tuhan karena telah menghilangkan hak saya sebagai warga negara yang patuh, tapi mungkin saya tidak berdosa kepada partai itu karena dengan saya mengambil uang dan mendukungnya, itu adalah bentuk kepatuhan kepadanya. Jadi tinggal Anda pilih, mau bertuan kepada Tuhan atau Partai.

Saya tau, pembicaraan ini berkonotasi negatif, pasti orang-orang akan bilang bahwa saya munafik, saya sok alim. Kenapa saya menebak begitu, karena pertama, Kultur, akan menjadi tolak ukur terhadap fenomena yang ada. Contoh, Anda tidak bisa keluar dari statement orang dulu tentang bias nya pendidikan. Pendidikan ga penting lah, pendidikan ga ada gunanya lah, sampai yang paling parah pendidikan tidak bisa membuat kalian kaya. Itu paradigma buruk dalam satu kultur.

Alasan yang kedua, saya tau orang-orang yang berusaha mengklaim agar sesuai dengan kultur mereka adalah pelaku dari paradigma itu. Kenapa orang dulu mempercayai terhadap paradigma buruk tadi, karena mereka tak memiliki cukup ilmu untuk melawan apa yang mereka dengar dari sesepuh mereka, yakni tentang paradigma buruknya pendidikan. Sampai kebelakang begitu terus. Karena apa, seperti yg saya bilang tadi, karena minimnya pendidikan. Mereka tidak mempunyai alasan untuk tidak percaya terhadap pernyataan itu.

Jadi jika di dalam pemilu ada orang suci kemudian dikatakan sok suci, terdapat kongklusi sederhana,  orang yang kedua barusan adalah, terjangkit paradigma dalam kultur politik, kemudian dia menjadi pelaku dari paradigma tersebut. Hehe
Karena saya percaya tidak semua orang harus dipaksa sama dalam berparadigma. Apalagi dalam urusan kewarganegaraan.

Demokrasi kita adalah demokrasi yang suci, demokrasi yang dibangun atas ketulusan hati. Sehingga mari jangan kita kotori dengan paradigma yang kurang terdidik. Misalnya, akibat pemilu terjadi kriminalitas, seorang petugas yang dikawal polisi dibunuh saat membawa kotak suara dengan motif politik. Akibat pemilu, terjadi bentrok antar masyarakat dengan tim KPU di beberapa daerah. Ironi sekali bukan, dan masih banyak ironi-ironi yang lainnya.

Saat menulis tulisan ini, rasa panas tetap terasa melebihi panasnya terik matahari diatas sana. Jadi ayo kedepannya kita bersama membuat Indonesia menjadi air, air bagi rakyatnya, air bagi pemerintahnya dan bahkan air bagi seluruh negara di dunia. Karena air adalah sumber dari segala jenis kehidupan yang ada. Tanpa demokrasi Indonesia tak akan seperti ini.

Kita berbeda, kita saudara dan kita Indonesia.

Salam Sukses Sejahtera
By: Mohammad Faiq