Kemaren saya tak sengaja mampir ke sebuah toko baju, dengan konsep vintage dan agak sedikit retro ditambah tempat duduk di bagian beranda membuat suasana sangat nyaman untuk sekedar minum kopi, diskusi dan melihat jalan jalan yang cukup ramai.
Didalam toko itu memang begitu banyak aksesoris yang menunjukkan nuansa bagi anak muda, seperti koleksi kendaraan tua, buku-buku tentang pemerintahan dan bahkan beberapa kaset-kaset zaman dulu mewarnai tempat dengan set sekitar tahun 90 an itu. Sayapun sesekali memotret, mengabadikannya dan menaruh di sosial media sebagai bentuk saya mengeksiskan tempat yang cukup ramai ini.
Di toko baju ini saya menemukan kaos dengan hastag 2019 ganti presiden, sebuah kaos yang bukan sekedar kaos biasa. Saya tak terlalu memperhatikan jenis kain atau kerapian jahitannya, yang membuat saya melirik kaos itu adalah tulisan agak besar yang terpampang di bagian dadanya. Sehingga sejenak pikiran tenang saya dari tadi secara langsung menghilang, berubah memikirkan arus politik bangsa, isu politik yang berkembang dan mungkin hastag dengan beberapa inovasi yg berbeda, seperti kaos, demo, atau bahkan lagu.
Saya tak bisa lagi menikmati indahnya hidangan roti dengan teh hangat itu, sayapun juga tak leluasa menikmati empuknya sofa yang dihadapkan dengan tirai dari daun daun buatan yang elok itu. Akibat kaos tadi, kaos yang akan masuk kedalam persepsi orang-orang. Saya lebih setuju jika itu diasumsikan sebagai kaos yang serupa dengan Illuminati atau zionis. Pasalnya kaos seharga seratus ribuan itu tidak diset untuk kebutuhan badani kita, tapi diset untuk secara tak sadar mempengaruhi persepsi kita, ya kita, sebagai manusia yang hidupnya diombang ambing oleh media ini.
Indonesia sebentar lagi akan menghadapi pemilihan presiden. Sekarang ada begitu banyak isu-isu tentang pro kontra calon kandidat. Ya biasa kepentingan politik. Misalnya kemaren presiden Jokowi mempererat silaturahmi dan para ulama muda untuk mendukung agar maju di pilpres 2019, atau ada aksi demo didepan tempat martabak anaknya di solo, tentang 2019 ganti presiden ini, dan bahkan sudah ada lagu tentang hastag itu yang dipimpin oleh Ahmad Dhani, tentang ini, mantan vokalis dewa 19 mengadakan sayembara lagu metal bagi masyarakat Indonesia tentang ganti presiden yang hadiahnya sekitar 100 jutaan. Ajip banget yaa. Itu semua adalah bagaimana cara membangun persepsi kepada orang-orang, sama dengan tempat ini, cara membangunnya dengan jualan kaos bertuliskan #2019 ganti presiden
Saya tak mau terusik dengan itu, sayapun tak mau mengusikkan diri dengan itu. Yang saya dan masyarakat Indonesia inginkan adalah bagaimana nanti sosok pemimpin nya. Bukan menjadi persoalan tentang berapa biaya kampanye atau tehnik pemasaran calon kandidat, sama sekali bukan persoalan bagi saya. Siapapun yang menjadi pemimpin, seluruh masyarakat haruslah mematuhi kebijakan pemerintah yang ada, termasuk orang-orang yang kontra secara politis. Sehingga bagi saya, tak jadi persoalan menggunakan hastag dengan tulisan apapun, yang paling penting bagaimana membangun Indonesia lebih makmur dan menuju masyarakat Madani.
Salam Sukses Sejahtera
By: Mohammad Faiq
Didalam toko itu memang begitu banyak aksesoris yang menunjukkan nuansa bagi anak muda, seperti koleksi kendaraan tua, buku-buku tentang pemerintahan dan bahkan beberapa kaset-kaset zaman dulu mewarnai tempat dengan set sekitar tahun 90 an itu. Sayapun sesekali memotret, mengabadikannya dan menaruh di sosial media sebagai bentuk saya mengeksiskan tempat yang cukup ramai ini.
Di toko baju ini saya menemukan kaos dengan hastag 2019 ganti presiden, sebuah kaos yang bukan sekedar kaos biasa. Saya tak terlalu memperhatikan jenis kain atau kerapian jahitannya, yang membuat saya melirik kaos itu adalah tulisan agak besar yang terpampang di bagian dadanya. Sehingga sejenak pikiran tenang saya dari tadi secara langsung menghilang, berubah memikirkan arus politik bangsa, isu politik yang berkembang dan mungkin hastag dengan beberapa inovasi yg berbeda, seperti kaos, demo, atau bahkan lagu.
Saya tak bisa lagi menikmati indahnya hidangan roti dengan teh hangat itu, sayapun juga tak leluasa menikmati empuknya sofa yang dihadapkan dengan tirai dari daun daun buatan yang elok itu. Akibat kaos tadi, kaos yang akan masuk kedalam persepsi orang-orang. Saya lebih setuju jika itu diasumsikan sebagai kaos yang serupa dengan Illuminati atau zionis. Pasalnya kaos seharga seratus ribuan itu tidak diset untuk kebutuhan badani kita, tapi diset untuk secara tak sadar mempengaruhi persepsi kita, ya kita, sebagai manusia yang hidupnya diombang ambing oleh media ini.
Indonesia sebentar lagi akan menghadapi pemilihan presiden. Sekarang ada begitu banyak isu-isu tentang pro kontra calon kandidat. Ya biasa kepentingan politik. Misalnya kemaren presiden Jokowi mempererat silaturahmi dan para ulama muda untuk mendukung agar maju di pilpres 2019, atau ada aksi demo didepan tempat martabak anaknya di solo, tentang 2019 ganti presiden ini, dan bahkan sudah ada lagu tentang hastag itu yang dipimpin oleh Ahmad Dhani, tentang ini, mantan vokalis dewa 19 mengadakan sayembara lagu metal bagi masyarakat Indonesia tentang ganti presiden yang hadiahnya sekitar 100 jutaan. Ajip banget yaa. Itu semua adalah bagaimana cara membangun persepsi kepada orang-orang, sama dengan tempat ini, cara membangunnya dengan jualan kaos bertuliskan #2019 ganti presiden
Saya tak mau terusik dengan itu, sayapun tak mau mengusikkan diri dengan itu. Yang saya dan masyarakat Indonesia inginkan adalah bagaimana nanti sosok pemimpin nya. Bukan menjadi persoalan tentang berapa biaya kampanye atau tehnik pemasaran calon kandidat, sama sekali bukan persoalan bagi saya. Siapapun yang menjadi pemimpin, seluruh masyarakat haruslah mematuhi kebijakan pemerintah yang ada, termasuk orang-orang yang kontra secara politis. Sehingga bagi saya, tak jadi persoalan menggunakan hastag dengan tulisan apapun, yang paling penting bagaimana membangun Indonesia lebih makmur dan menuju masyarakat Madani.
Salam Sukses Sejahtera
By: Mohammad Faiq
0 Comments