Menjelang liburan panjang natal dan tahun baru 2018. Sejumlah
agenda dari berbagai kalangan terus direncakan. Ada yang liburan bersama
keluarga ke berbagai wahana di luar kota, ada pula yang pulang ke kampung
halaman melepas rindu dengan keluarga. Menarik sekali bukan. Sehingga momen
akhir tahun terbayarkan setelah selama satu tahun dipenuhi dengan aktifitas
yang begitu padat. Kerja di kantor, karyawan bank, marketer, politikus, aktifis
dan sampai mahasiswa. Menjelang akhir tahun menjadi momen yang indah untuk
merencakan agenda liburan.
Namun, akhir tahun bukanlah suasana yang selalu
menggembirakan. Akhir tahunpun juga menjadi perhitungan matang bagi sebuah
perusahaan, perusahaan besar tentunya, mengevaluasi supply and demand selama
satu tahun. Akhir tahunpun bagi guru dan dosen merupakan waktu untuk kerja
lebih ekstra perihal input nilai dan transkip hasil kelulusan yang akan
diajukan ke sistem akademik. Dan akhir tahun juga menjadi momen dimana setiap
aparat, seperti pemerintah, partai politik dan bahkan ormas-ormas di negeri
kita untuk membuat resolusi tahun depan, atau jika skarang tahun 2017 maka
resolusi 2018 lah menjadi fokus mereka.
liburan itu selalu identik dengan menyita waktu untuk
bersenang-senang dalam situasi yang berbeda. Misalkan dalam tempat yang
berbeda, dalam suasana yang berbeda bahkan dengan pacar dan teman-teman yang
berbeda. Dan liburan adalah suatu bentuk yang siapapun menyukainya. Arti liburan
dalam kontek yang lumrah di negeri kita ialah suatu kultur yang dikorelasikan
dengan hari libur pendidikan. Hari libur pendidikan menjadi momen yang pas
untuk berliburan. Sehingga liburan di saat waktu libur pendidikan adalah kultur
bagi masyarakat indonesia.
Akhir tahun ini, tepatnya bulan lalu, kasus Setya Novanto
bukanlah suatu hal yang menggembirakan. Mungkin bagi Partai yang merasa rival
dengan Golkar menjadi suatu hal yang menggembirakan, itu mungkin. Tapi secara
umum kasus e-KTP yang diusut tahun ini adalah suatu hal yang sangat
mengecewakan. Mengecewakan bagi bangsa dan isi-isinya, termasuk saya dan
masyarakat indonesia. sehingga mungkin tahun ini keluarga Setnov tidak sempat
memilih tempat liburan mana yang akan dikunjungi seperti umumnya banyak orang. Sehingga
konten liburan di liburan pendidikan dalam kasus setnov tidak lagi dipakai bagi
tim yang bersangkutan kecuali mungkin Otto Hasibuan dan Fredrich Yunadi yang
telah mengundurkan diri menjadi pengacara beliau.
Semenjak itu, media dan wartawan memiliki tugas akhir tahun
yang begitu melelahkan. Sehingga menghilanglah satu agenda liburan untuk pulang
ke halaman rumah. Bagi awak media, kasus ini sungguh menjadi momen yang harus
dikejar. Ini bisa menjadi berita yang menggembirakan bagi wartawan, tanpa ini
mereka mungkin tidak lembur dan mendapatkan uang honor tambahan. Sehingga awak
media getol melihat perubahan-perubahan setnov setiap waktunya. Tabrakan dengan
tiang listrik, sakit, sembuh dan sakit lagi hingga akhirnya bisu dan tidak bisa
menjawab Hakim saat disidang dalam kasus tersebut.
Berakhirnya sidang beberapa minggu lalu, menjadi akhir dari seluruh
kasus e-ktp ini. Sehingga menjadi kejelasan dan memberikan ruang bagi
masyarakat untuk tidak lagi menuduh, menebak-nebak dan menterjemahkan siapa
yang bersalah dan mengapa belum tuntas digeledah. Sehingga masyarakat indonesia
bisa melanjutkan liburan mereka lagi tanpa harus terganggu dengan bapak Setya
Novanto yang tidak bisa liburan bersama keluarga di tahun ini.
0 Comments