Konon, manusia menafsirkan segala bentuk sangkut-paut kehidupannya. Mereka menjadi cerdas satu-satunya dimasa itu dari pada manusia-manusia yang lain. Sehingga kehidupan dulu lebih sakral dan menyatu dari pada kehidupan setelah-telahnya. Manusia zaman dulu, konon, diceritakan sangat sulit menjadi manusia kepercayaan, orang pintar atau orang bijak. Sulitnya itu dibuktikan dengan sosok yang menjadi multifungction. Manusia yang bisa menyembuhkan perkara sihir dilain waktu juga mampu mengundang hujan atau mereka juga bisa membidani wanita yang akan melahirkan atau bahkan meramalkan kapan purnama dan kapan musim kemarau datang. Cuman mungkin tidak seperti istilah ilmu pengetahuan modern saat ini cara menyebutnya.

Berbagai persoalan tempo dulu diutarakan terhadap satu sosok yang pakem dan terkenal. Sehingga paradigma seperti ini juga bisa membuat kebuntuan terhadap pola pikir masyarakat yang menganggap dirinya mempunyai derajat bawah. Mereka akan selalu bersikap ketergantungan terhadap si sosok itu begitu kurun lamanya.

Saya membayangkan jika sekarang kembali ke zaman itu, zaman dimana manusia sukar untuk menjadi figur dan tauladan yang kredibel. Sekarang itu justru sangat mudah menjadi orang yang membijakkan diri atau mempintarkan diri, saya boleh menyebutkan dengan istilah memfigurkan diri,ini getol sekali saya amati saat ini. Eksistensi mengaburkan siapa diantara manusia yang kepala dan hatinya benar-benar benar, atau benar-benar baik. Akan menjadi rumit penjelasannya jika mengaitkan ibroh masa lalu dan masa sekarang.

Manusia-manusia di zaman ini, yang telah mengalami berbagai bentuk penghianatan, pengorbanan, perselingkuhan atau justru perang saudara untuk menunjukkan bangsa yang berpradaban, justru terlihat aneh dan penuh kebodohan. Minimal kita tau garis keturunan kita, nenek moyang kita dan siapa yang membesarkan kita. Bukan justru mengorbankan tali persaudaraan sebangsa dan seagama hanya demi kepentingan dan sebuah eksistensi belaka.

Konotasi pembicaraan ini tidak bermaksud untuk melihat apa saja yang hampir miris secara keseluruhan. Namun ini hanya sebagian dari yang terlihat, meskipun pada sejarah memang kita tak pernah lupa terhadap perjuangan bapak Pluralisme bangsa yang telah hangus sekitar seperempat abad itu. Bentuk pola pikir manusia saat ini, jangan-jangan termasuk saya, tidak memukai manusia di paragraf pertama dan kedua. Jika dulu kebenaran itu sifatnya universal saat ini, kebenaran itu tendensius, Tergantung perspektif kata ilmu filsafatnya. Atau tergantung pendekatan yang sifatnya normatif atau historis menurut metodologi keilmuannya. Tanpa itu kebenaran hanya akan menjadi hipotesis atau kebenaran sementara.

Saya bangga terhadap perkembangan pencarian kebenaran itu. Mulai dari filsafatnya Rene Descartes, dan Bernard Russel sampai August Comte dan Derrida seorang ahli Linguistik modern. Tapi disisi lain saya juga menurunkan dahi dan mengernyitkan bulu alis mata, pasalnya revolusi perkembangan peradaban keilmuan mulai dari barat sampai islam, manusia-manusia saat ini belum tersentuh akan hal itu. Maksud saya sebagian (seperti ulasan diawal bahwa hanya sebagian). Dari ini anda akan mengerti tentang asumsi saya yang seolah-olah konotasinya jelek terhadap manusia-manusia sezaman ini. Jika manusia dulu penuh dengan kegelapan, karena memang top figur nya limited. Tapi sekarang dengan banyaknya terbukanya cakrawala keilmuan yang dipelopori orang-orang berpengaruh sudah menjadi seharusnya manusia tidak akan jauh-jauh dari kehebatan mereka. Bukan menampakkan kebodohan dengan hanya menfigurkan diri dan mamajangnya di media sebagai bukti bahwa dirinya penuh dengan kebijakan dan kebenaran. Toh sekalipun faktanya sebagian yang lain masih memiliki kredibilitas yang sejati, sayapun tidak memungkiri itu.


Wahai Republik manusia sezaman ini, mari kita berpulang terhadap paradigma tempo dulu, untuk mengenang lagu kebangsaan yang telah lama usang, bendera yang penuh dengan debu atau pakain yang mengecil dengan rajutan-rajutan tradisional buatan nenek dan pembantu kita.