Bunga! Kuntummu menjadi candu untuk kucium, merekah berbinar tanpa menunggu mentari menyentuhnya. Mentari pagi menjadi saingan akan keceriaan dan tutur lembut kepercayaanmu kepadaku. Bunga! Inginku menjadi lebah membawakan madu untukmu selamanya.Bersentuhan langsung tanpa ada penghalang. 

Biarpun harummu dari kejauhan, seberapa jauh kucium itu dan sebarapa lama kumenunggu, bunga akan tetap harum dengan lebah-lebah lain yang ingin mendekatinya.

Bunga! Yakini satu hal penting ini, jika harummu kau simpan dan tanam erat-erat untukku, kuberikan mentari melebihi sinarnya pagi ditimur sana. Kuberikan air sekalipun kemarau panjang untuk menghidupimu.

Apapun yang kau inginkan, termasuk melarangku untuk mencium bau harum semerbakmu. Aku turuti. Disaat lebah sudah mulai paham tentang keharuman itu, biarlah ia pergi mencari jati dirinya untuk kehidupan mendatang, lebah akan menempatimu sebagai rumah.

Rumah untuk hidup, untuk pulang, dan untuk memberikan kecerahan di waktu hujan dan kemarau. Disaat aku sudah menemukan jati diriku dengan kemapanannya, aku pelihara kau bunga, untuk bisa melahirkan bunga-bunga baru harapan kita dan bahkan harapan bangsa.

Jadilah bunga dalam relung yang paling dalam. Karena tanpa kamu, siangpun akan tertutup oleh hilangnya binaran dan keharuman mu, bunga.