Hey, mata binar yang sering melirik tidak jelas itu. Membuat
orang bertanya-tanya tentang tatapan manja tadi. Akh.. palingan perasaan aku
saja, ujar seorang bijak yang dikatakan gila oleh teman sejawatnya, karena
ucapanny sudah mulai tidak sesuai dengan ekpresi psikologinya. Dari sini semakin
mengarah ke hal yang sukar dimengerti oleh banyak orang, bahkan akupun
demikian, kesukaran yang begitu sulit dipahami hanya terletak di tatapan mata
itu, ya.. tatapan manja dan penuh perhatian itu.
Melamun riang berlari-larian dengan diam ditempat misalkan, hanya
dibuktikan dengan senyuman manis memainkan ponsel dan kaki yang
digerak-gerakkan semalaman. Aduh, teman putriku, ujar teman kamar kosnya yang
sumringah melihat senyuman tidak jelas itu, ada kail siapa yang menyangkut di
sarangmu. jangan-jangan kail itu kau tangkap atau ia singgah sendiri. Siapa yang bisa mengelak jika burung-burung menyanyikan lagu setiap
pagi, dan kupu-kupu mengantarkan surat setiap sore, saat mau tidurpun bahwa ada rasa rindu hanya
bisa dibisikkan lewat angin dan percakapannya yang terbatas itu, ya seterbatas
cara guru memarahi muridnya takut kena pidana jika sampai memukulnya.
Dudukpun begitu, waktu memperhatikan memperlambat jarum jamnya
disaat sedih. dan mempercepat jarum jamnya disaat ia senang, membuktikan bahwa jam
dinding sudah mulai peka terhadap pemilik kamar itu. Bagaimana bisa jarum jam
tega mislakan, melihat ia menangis. atau, bagaimana tidak senang coba, melihat dia tersenyum
seperti disaat senja di subuh menjelang pagi, begitu bersinar. Tanaman depan
rumahpun semakin riang saat air yang ia tuangkan dipenuhi dengan semangat cinta
yang mengalir, memberikan semangat bagi tanaman untuk berfotosintesis
memaksimalkan kesempatan disaat ia senang dan riang.
Akh, ujar orang bijak barusan, sebenarnya apakah aku
mengilustrasikan dia atau aku yang aku ilustrasikan sendiri, sungguh remang penjelasan
ini. Namun seremang apapun hal ini, tak perlu untuk dimengerti orang lain yang
penting tentang aku dan siapa yang aku tulis disini, lagi-lagi si bijak menjadi
bodoh untuk yang kesekian kalinya,
Pada akhirnya ia melihat puisi yang dikaitkan dengan
kehidupan dan keraguan metafisis para filsuf terdahulu,
Ragukan bahwa bintang itu berkelip
Ragukan bahwa matahari itu bersinar
Dan ragukan bahwa apa yang kamu ketahui
Tapi jangan pernah kau ragukan aku kepadamu[1]
0 Comments