Pada awal kemunculan Islam sebagai sebuah sistem kepercayaan dan muamalah itu sudah mengundang banyak kontroversial terutama bagi para petinggi-petingg Quraiys. Mulai dari Abu Jahal sampai kepada Abu Lahab yang menjadi motorik utama dalam penolakan Agama yang dibawa oleh Muhammad yang masih mempunyai garis keturunan dengan mereka, yakni melalui Abdul Manaf.

Kedatangan Agama ini mengalihkan banyak perhatian banyak orang terhadap cara hidup yang selama ini mereka anut atau bangun. Lambat laun islam menjadi bagian yang semakin lama semakin membersar. Besarnya islam dimata Petinggi Quraiys berbanding lurus dengan tingkat besarnya kebencian mereka terhadapa agama ini terutama terhadap Muhammad.

Sejenak saya berpikir, situasi yang sifatnya belum pasti kebenarannya. Logika manusia sudah berhasil mengklaim tentang posisi situasi itu, apakah itu benar atau salah, mengandung sara atau tidak atau bahkan sampai keterlibatan dalam situasi itu murtad atau patuh. Logika manusia bisa se-dahsyat itu bagi saya.

Tapi ada situasi pula yang oleh logika-lagi-lagi logika-yang saya singgung, dimana menjadi faktor perseteruan, konflik, penuh kebencian dan perpecahan, Seperti kisah-kisah masa lalu dalam sejarah. Konsep dan norma yang dibangun di suatu bangsa terkadang tidak seindah dan se kompherenship kejadian di lapangan. Terkadang yang tujuan nya arif dan mulia saja, cara-cara nya dipenuhi dengan tangis dan air mata. 

Kisah Thariq bin Ziyad, seorang penakluk Andalusia yang terdiri dari semenanjung Iberia termasuk Persia dan Portugis waktu itu, membuat hati miris dan bulu kepala merinding membayangkan banyaknya pasukan musuh yang ditebang dan bersimpah darah sehingga menjadi awal dari besarnya Islam di Andalusia.

Fakta tersebut tidak pernah menjadi skenario atau bahkan kewajiban setiap individu umat muslim. Tapi itu terjadi. Andalusia tanpa darah dan air mata tidak akan pernah sebesar peradabannya. Sama persis seperti kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia. Konteks masuknya Suanan Kalijaga untuk bersama ikut bermain mengadu ayam tidak pas langsung para Ahli Agama menyalahkan tindakan itu. Karena keputusan tentang seorang ulama yang bertindak diluar norma secara logika memang kurang disetujui. Tapi untuk sampai kepada logika itu membutuhkan banyak pendekatan, seperti pendekatan-pendekatan yang dicontohkan oleh Muhammad menghadapi banyak orang dengan kelas yang berbeda-beda.


Singkat cerita, Islam di Arab diterima dengan menggunakan banyak strategi. Jika cara halus tak menjadi alat untuk meluruskan ke jalan yang benar, pedanglah cara mutakhir untuk itu. Terkadang tujuan mulia dan arif tidak selalu dikonotasikan seperti tunduk-tunduk atau lemah-lemah ataupula rendah-rendah. Tegas dan berani memegang komitmen itu lebih jelas arahnya. Seperti ketegasan Nabi Muhammad pada masa hidupnya sukses menjadi pemimpin umat manusia. Tanpa perjuangan itu manusia saat ini tidak pernah tau peringatan dan kabar baik di akhir kehidupan.