Berlari-larian membawa tas dan sandal baru, memamerkan dengan begitu bangga seolah esok adalah hari dibelikan rumah bagi seorang pemuda  atau wisuda bagi mahasiswa semester 7. Bukan main senangnya. Itu terjadi pada klara adek kecilku yang manis dan kadang juga menyebalkan, itu kata teman cowo aku saat pertama kali ke rumah dan bajunya penuh dengan lendir adek, sialan kata teman culunku itu.
Apa-apa yang menjadi kesenangan klara akan juga menjadi kesenangan keluarga, begitupun sebaliknya. Jangan sampai si klara manis itu berubah menjadi kucing anggora yang bulunya sudah kayak kesitrum dan menggaong-gaong gak jelas di lantai-lantai, itu persis saat klara tidak sesuai dengan apa yang dia mau. 
Tak pernah bosan dengan satu anak ini, tidak mengerti apakah aku juga diperlakukan sama dulu atau tidak. Palingan aku lebih jaim, tidak hanya pemuda yang dipengaruhi oleh zaman, anak-anak pun menurut aku juga dipengaruhi oleh zaman. Seusia anak sd sudah mengerti masalah percintaan, parah. Padahal masalah itu baru aku alami pada masa sma itu pun masih jadul pendekatannya. Masih pakai surat dan dibalesnyapun juga dengan surat bahkan putusnya pun juga pakai surat, keren ya.  Jadi pacarannya dengan surat.
Begitupun klara, semakin lama semakin jelas pula sikap keluarga terkait dengan cara “memanjakan” klara. Seperti kejadian siang itu, klara dengan kebiasaannya selalu ceria dan memusatkan perhatian semua orang seolah deddy corbuzier memainkan tehnik sulapnya, semua orang senang, tertawa dan akan terus dipertunjukkan dengan anak kecil mungil itu.
Pada sorenya ada tragedi hangat yang menurut aku itu justru lucu. Mereka mulai dari nenek, pengasuh sampai tetangga sebelah ribut dengan satu bahasan yang sama. Aku juga mau hampir ribut melihat keributan itu. Si klara sudah mulai aksi kucing anggoranya, mengaong-gaong tidak jelas sambil guling-gulingan di lantai. Aku biarkan karena biasanya anak kecil semakin diperhatikan semakin ingin lebih jauh diperhatikan, kayak semacam lebay, aku cuwek aja.
Nenek ributnya makin jadi, mereka semua mencari-cari sampai ke kolong bangku, toilet atau bahkan ke kandang kambingpun, oh maaf itu kamar aku. Artinya sepanjang saat mereka dibantu tetangga sebelah mencari satu alasan yang membuat klara  berubah menjadi anggora. Panik sekali bukan kalo sampai mengundang tetangga sebelah. Ternyata, pas aku tanya apa yang mereka cari sampai heboh, jawabannya diluar dugaan ternyata, sama sekali diluar jangkauan. Yang mereka cari itu cuman sandal. Iya sandal, sandal yang katanya dia tidak mau makan jika tidak ketemu. Kan Lebay namanya.