Ramai-Ramai segerombolan santri membawa gayung dan perlengkapan wudhuknya, mengingatkan saya 2 tahun silam lalu lamanya. Begitu bangga saat menyadari bahwa saya pernah ada di kegiatan itu.
Ada sesuatu yang belum terpikirkan oleh mereka, dan akan mereka pikirkan setelah mereka sudah keluar dari kegiatan ini, kegiatan kegiatan yang lain tentunya bukan sekedar bahasan tentang gayung dan pernak perniknya itu, melainkan kegiatan inti disana.
Saya tidak mengerti mengapa saya begitu yakin terhadap pandangan ini. Seyakin para wali santri memondokkan putra nya Dengan barokah dan doa pengasuhnya sebagai alasan kebanyakan masyarakat di desa-desa.
Saya memandang mereka dipenuhi keindahan, ketentraman dan kehidupan yang tidak saya rasakan setelah 2 tahun sebelum nya. Dan itu yang saya rasakan. Apakah ini menandakan saya akan kembali seperti mereka? Dengan gayung dan Sabun di pentang dan di senja?. Oh seperti nya juga tidak.
Saya tidak bermaksud untuk menyatakan bahwa satu-satunya keindahan dan segala kebaikannya itu Bermuara dari tempat itu. Karena saya sangat yakin keindahan dan segala kebaikannya itu hanya bagi saya, atau hanya bagi orang yang melihat Dari luar tempat itu seperti saya. Bagi mereka, mungkin hanya aturan-aturan dan suruhan-suruhan jika tidak brangkat hukuman dan marahan yang akan terjadi. Bukan semata keindahan atau kebaikannya.
Mungkin bagi mereka, santri, kehidupan disana adalah seperti penjara yang lebih berat dari besi sebagai seruji-jerujinya, banyak tekanan dan ketidakpahaman secara substansial yang mereka kerjakan, Agenda-agenda yang sama sekali terkadang hanya bagian dari rutinitas kehidupan bersantrri belaka tanpa merasakan adanya esensi, jangan Heran jika keluhan santri seperti para pasien akut yang pasrah akan takdir buruk-mujurnya, keluhan santri berupa misalkan merasakan adanya sesuatu yang masih merasa tidak tau apa-apa, tidak bisa apa-apa dan banyak yang mengindikasikan seolah yg mereka kerjakan selama di sana itu nonsense, begitu kira-kira bahasa ilmiahnya.
Itu bagi saya sudah biasa, bukan hal yang mesti dikagetkan apalagi sampai penasaran ingin tau jawab an dari pertanyaan mengapa bisa seperti itu?
Tapi tidak, bukan lantas mereka sia-sia dalam bertugas melaksanakan hal yg mereka anggap sia-sia, ini cuma alegori, atau sederhana nya fatamorgana semu. Dimana santri malas dan takut menghadapi kembalian libur panjang setakut melihat bayangan api ditengah terik matahari yang membakar aspal, sebuah ilusi api yg kita kenal fatamorgana.
Cara pandang yang berbeda ditunnjukkan oleh ibu, biasa nya, dan Bapak nya, ketika Tiba kembalian libur panjang semua keluarga semakin ingin melihat kesemangatan anak emas nya, saking harmonisnya situasi itu bukan hanya keluarga yang ikut senang, tetangga dan guru ngajipun tak lupa memberi uang yang mereka istilah kan se-sabun-an itu. Ini tentram, Indah, hangat bukan panas sepanas fatamorgana yang sedang ada dalam hati santri yang siap-siap akan masuk lagi ke jerujinya. Dia tidak peduli berapa banyak uang dan makanan saat itu, apalagi perasaan senang nya ibu Bapak, sama sekali tak peduli, yg dia pikirkan adalah fatamorgana barusan,
Itu yang saya miliki jika saya mau memberikan pandangan kepada santri, oh apa karena terlalu banyak dosa dahulu sehingga pandangan semacam ini tidak saya punya dulu. Tapi memang benar pandangan ini akan mereka rasakan setelah nanti, setelah mereka sama seperti saya, yakni keluar dari keindahan atau fatamorgana itu.
Setelah keluar, nanti akan mereka rasakan sendiri bahwa fatamorgana yang mereka anggap sebenarnya adalah keindahan dan kedamaian.
Karena Indah itu akan terasa jika keluar dari zona keindahan itu.
0 Comments