Hush, jangan suka membicarakan orang, itu dilarang keras oleh agama, kepada teman saya saat dia nyeletuk ngomong in hasil pemilihan gubernur DKI Jakarta yang Anies Baswedan dan Timnya sebagai pemenang. 

Masih pemilihan wilayah yang bukan miliknya saja begitu apalagi ntar kalo ada pemilihan d desa kami, untuk tidak diomongin sebulan lamanya.

Tapi selama berbicara tanpa menyebutkan nama atau bahkan kubunya, bagi saya itu sebuah analisa sebagai bahan pembelajaran, dan saya bisa belajar dari itu, dari kesalahan-kesalahan orang terdahulu.

Karena yang kita bicara kan bukan persoalan siapa dan apa jabatan yang mereka punya, ini tentang mindset, ideologi atau bahkan penyimpangan konsep yang sengaja didoktrin untuk generasi setelah nya.

Ini malahan baik, dan menjadi keharusan untuk dibicarakan tentang suatu kelompok bahkan individu. Bagaimana jika ada kesetiaan buta dan iplikasinya kepada orang-orang yang tak berdosa, objek korupsi atau lahan komersial misalkan. Ironi kan.

Jadi membicarakan orang itu tidak selama nya indikasi buruk, iya jika seperti ibu-ibu ngomong in arisan, atau mahasiswi yang demen ngomong in penampilan pacar dan lelaki taksirannya, itu baru gossip namanya.  

Analisislah apa yang kita tangkap melalui seluruh panca Indra masing-masing. Terlebih, suara hati dan keyakinan.

Bukan lantas menolak realita yang ada dan tanpa menghargai perbedaan.

#HindariPengumpatSejati