Sastrawan muda, ah kelihatannya begitu tinggi bagi seumuran mahasiswa yang makalahnya masih sering revisi.

Tapi bagus, palingan akibat harapan itu, setidaknya malu lah terhadap bekas-bekas Coretan dosen dimakalahnya. Ini baik. Biarpun tidak se Pinter gusmus atau a.s laksana, paling tidak bisa merangkai kalimat Indah. Lumayan lah buat senjata penakluk wanita.

Sastra yang saya pahami ialah sebuah penyampaian makna yang cara penyampaiannya begitu Indah. Saking Indah nya sampai kadang kadang cara mengartikannya satu sama yg lain itu berbeda. Itulah kelebihan sastra.

Sajak, puisi dan sebuah opini pun bagi saya, juga bisa mengandung sastra. Itulah lagi-lagi keunikan sastra. 

Rupanya sastra dalam opini terkadang lebih menarik dan begitu hangat. Banyak cara yg digunakan, oh maksudnya banyak sastra yang diterapkan. Memperlihatkan secara Samar mengenai sebuah isu yg menggiring opini masyarakat. Ada kesenian tertentu, bagi saya sih, ketika tulisan itu tidak hanya mnmengernyitkan dahi melainkan bisa membuat tersenyum dan bahkan miris.

Ada war of ideology disana, makin lama makin banyak pula orang-orang yg menekuni sastra dan opininya. Ini hebat, sehebat sebuah tulisan dan tendensi-tendensi yang disajikan.

Perang yg semua orang mengindikasikan sebuah perpecahan, pertarungan atau bahkan permusuhan sangatlah sukar untuk dibahas bagi orang awam. seolah ideology war sangatlah bahaya. Ya memang sangat bahaya, bukan zaman dimananya pedang dan senjata menjadi alat melainkan ideology dan politik lah yg menjadi alat saat ini, bahkan sastra.

Asal masih di rute yang maslahat, sastra di opinipun masih lumrah bahkan dianjurkan, bukan tendensi-tendensi personal yang makar dan hoax menjadi Tanda perpecahan atau permusuhan setiap golongan yang akhirnya lebih parah dari pada darah akibat senjata tempo dulu.



war of ideology