Kau titipkan senyum lewat sebuah waktu saat pertama kita bertemu, beruntunglah bangku-bangku dan dedaunan telah menjadi saksi sambil sumringah mengintip perkenalan ku kepada mu wahai belahan hatiku.


Seperti sepetik kuntum yang mengembang di bibir merahmu memancarkan pesona dan tercium aroma rindu menggebu yang semakin menyayat perlahan-lahan.


Terkadang sendiri dikeramaian, se risau gerumuh ombak menghantam bebatuan dipinggir pantai, berisik dan tak teratur. Bertanda hati terkoyak-koyak tak terobati.


Luka mendalam mengharap kehadiranmu sebagai obat lara dengan garansi seumur hidup tanpa ragu-ragu.


Entah dimana kamu sekarang berada, hanya dalam angan dan pikiranku.